• Selasa, 30 November 2021

Usai Kasusnya Viral, Korban Kekerasan Seksual Anak di Luwu Timur Kerap Didatangi Pihak Polres dan P2TP2A

- Rabu, 13 Oktober 2021 | 13:52 WIB
Ilustrasi kekerasan seksual terhadap anak ( Sumber Foto: Pinterest)
Ilustrasi kekerasan seksual terhadap anak ( Sumber Foto: Pinterest)

Edisi.co.id - Usai kasusnya viral di media sosial, korban kekerasan seksual di Luwu Timur, Sulawesi Selatan kerap didatangi pihak Polres dan P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) Luwu Timur.

Menurut Direktur LBH Apik Sulsel Rosmiati Sain, yang merupakan tim kuasa hukum korban, pada tanggal 7 Oktober 2021 penyidik Polres Luwu Timur dan petugas P2TP2A mencoba menemui korban.

Mereka datang dengan alasan mengecek kondisi korban. Namun, kedatangannya itu berhasil dihalangi oleh keluarga korban.

Di hari berikutnya, 8 Oktober 2021 pada malam hari, Kapolres Luwu Timur beserta jajarannya kembali mendatangi rumah korban dan menemui Ibu korban.

"Ibu korban yang saat itu tanpa ditemani kuasa hukum, diminta bicara dengan direkam keterangannya untuk 'menjelaskan ke media supaya tidak ada kesimpangsiuran berita,'" ungkap tim kuasa hukum korban dalam keterangan tertulisnya, Rabu (13/10/2021).

Tak hanya itu, pada tanggal 9 Oktober, Polres Luwu Timur juga berusaha menemui kerabat Ibu korban.

"Untuk membahas soal ramainya “fakta yang tidak berimbang” dalam pemberitaan kepada keluarga besar korban," jelas tim kuasa hukum korban.

Pada tanggal 10 Oktober, tiga orang petugas P2TP2A kembali mendatangi rumah korban dengan alasan mau mengambil data.

Namun, Ibu korban menolak kedatangan mereka dan berhasil menghalaunya.

Direktur LBH Apik Sulsel Rosmiati Sain menyayangkan tindakan dua instansi tersebut.

Menurutnya, kedatangan dua instansi tersebut menyalahi prinsip perlindungan terhadap korban anak.

"Tindakan tersebut menunjukkan kembali Polres dan P2TP2A Luwu Timur tidak memiliki perspektif perlindungan korban dalam menangani kasus anak," tulis Tim Kuasa Hukum Korban, dalam keterangan tertulis (13/10/2021).

Kehadiran Polres dan P2TP2A Luwu Timur ke rumah korban telah menyalahi Pasal 17 ayat (2) UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

"Polres Luwu Timur dan P2TP2A Luwu Timur seharusnya memahami bahwa kedatangan mereka beserta publikasi dan peliputan oleh media telah menyalahi prinsip perlindungan khusus terhadap anak," tegas kuasa hukum korban.

Kasus kekerasan seksual terhadap tiga anak yang dilakukan oleh Ayah korban, belakangan viral karena proses penyelidikannya dihentikan Polres Luwu Timur lantaran kurang bukti.

Berita mengenai kasus kekerasan seksual tersebut pertama kali dipublikasi melalui laporan mendalam dari Project Multatuli dengan judul "Tiga Anak Saya Diperkosa, Saya Lapor ke Polisi. Polisi Menghentikan Penyelidikan."

Halaman:

Editor: Ilham Dharmawan

Tags

Terkini

Pemprov dan DPRD DKI Jakarta Menyetujui APBD Tahun 2022

Selasa, 30 November 2021 | 00:32 WIB

Manfaat Fitur Telegram untuk Kegiatan Belajar Mengajar

Senin, 29 November 2021 | 22:13 WIB

Majalah Gontor Kunjungi Primago Islamic School Depok

Senin, 29 November 2021 | 21:07 WIB

Lagi, Erick Tohir Kembali Sidak Toilet SPBU Pertamina

Senin, 29 November 2021 | 20:37 WIB

TPK Kelurahan Cibinong Siap Atasi Stunting

Senin, 29 November 2021 | 13:04 WIB

TM. Yusuf Syahputra Terpilih Sebagai Ketua IKM Depok

Senin, 29 November 2021 | 12:54 WIB

BKKBN Berikan Pembekalan Pada TKP Kelurahan Ciriung

Senin, 29 November 2021 | 12:47 WIB

Lembutnya Puding Coklat Roti tawar

Senin, 29 November 2021 | 11:39 WIB
X