• Selasa, 30 November 2021

MN KAHMI Berharap Kementerian Agama Bisa Memperkuat Persatuan Ummat

- Senin, 25 Oktober 2021 | 23:30 WIB
Manimbang Kahariady, Sekretaris Jenderal MN KAHMI.
Manimbang Kahariady, Sekretaris Jenderal MN KAHMI.

 

Edisi.co.id - Tanggapan masyarakat terus bermunculan menyusul statemen Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas, bahwa Kementerian Agama hadiah untuk Nahdlatul Ulama (NU). Meski Menag sudah mengklarifikasi pernyataan itu, yang menurutnya khusus ditujukan untuk internal NU, namun sejumlah pihak tetap menilainya kurang bijak.

“Di era sosial media sekarang ini, hampir tak ada celah  untuk luput dari perhatian  media. Dan dalam waktu singkat akan menyebar. Kecuali kalau statemen itu masuk kategori off the record,” kata Manimbang Kahariady, Seketaris Jenderal Majelis Nasional Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI).

Karena itu Manimbang sangat menyayangkan pernyataan tersebut yang menurutnya  sangat tidak bijak dan megusik rasa keadilan dan persatuan umat. Namun yang lebih berbahaya,  menurutnya, pernyataan itu sangat terkait dengan pola pikir atau  mindset untuk  mendominasi  institusi tertentu. Dan itu akan menjadi pembenaran terhadap  kebijakan yang cenderung  KKN.

Baca Juga: Yusril : Ucapan Menag Bikin Gaduh Saja, Tidak ada Manfaatnya bagi Kemaslahatan Umat Islam dari Ormas Manapun

“Ini berbahaya. Karena siapapun pejabat publik sekarang ini, di bidang apapun, merit system harus ditegakkan dan kapasitas harus dikedepankan, bukan koneksitas. Tujuannya,  agar fungsi dan tugas-tugas pelayanan bisa dilaksanakan secara baik.” Jadi, lanjut Manimbang, yang harus dibenahi dan diluruskan itu cara berpikir. Karena statemen itu merupakan ungkapan dari apa yang sudah terbentuk dalam pikiran.

Karena itu Manimbang mengharapkan agar para pejabat negara di bidang apapun, lebih megedepankan semangat kenegarawanan, kepemimpinan, dan keteladanan, bukan malah mendegradasi diri dengan pernyataan-pernyataan yang kontraproduktif.

Selain itu, lanjat Manimbang, statemen Menag itu ahistoris. Sebab, dari dokumen pembentukan Departemen Agama pada rapat Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), tanggal 25 November 1945, jelas sekali bahwa semangatnya adalah untuk mengayomi dan melindungi, serta memastikan berjalannya kehidupan beragama di Indonesia. Keinginan itu tumbuh dari bawah. Soal proses berikutnya ada peranan dari tokoh agama lintas ormas, itu tidak  dipungkiri. Namun itu tidak bisa dijadikan pembenaran bagi kelompok tertentu untuk menguasai kementerian tertentu.

Baca Juga: Buntut dari Pernyataan tentang Kemenag Hadiah untuk NU, Menag Yaqut Klarifikasi

Halaman:

Editor: Asri Al Jufri

Tags

Terkini

Pemprov dan DPRD DKI Jakarta Menyetujui APBD Tahun 2022

Selasa, 30 November 2021 | 00:32 WIB

Manfaat Fitur Telegram untuk Kegiatan Belajar Mengajar

Senin, 29 November 2021 | 22:13 WIB

Majalah Gontor Kunjungi Primago Islamic School Depok

Senin, 29 November 2021 | 21:07 WIB

Lagi, Erick Tohir Kembali Sidak Toilet SPBU Pertamina

Senin, 29 November 2021 | 20:37 WIB

TPK Kelurahan Cibinong Siap Atasi Stunting

Senin, 29 November 2021 | 13:04 WIB

TM. Yusuf Syahputra Terpilih Sebagai Ketua IKM Depok

Senin, 29 November 2021 | 12:54 WIB

BKKBN Berikan Pembekalan Pada TKP Kelurahan Ciriung

Senin, 29 November 2021 | 12:47 WIB

Lembutnya Puding Coklat Roti tawar

Senin, 29 November 2021 | 11:39 WIB
X