• Rabu, 28 September 2022

RUU Sisdiknas Dinilai Berdampak Positif Pada Ekonomi Nasional

- Rabu, 21 September 2022 | 10:36 WIB

Edisi.co.id - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyatakan rencana Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menghadirkan pembaruan wajib belajar dalam draf Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Kemendikbudristek mengubah wajib belajar menjadi 13 tahun pada RUU Sisdiknas.

Baca Juga: Pemkab Lumajang Perbanyak Even dengan Bangkitkan Ekonomi
"Keputusan Kemendikbudristek melakukan pembaruan wajib belajar yang dari sebelumnya sembilan tahun menjadi 13 tahun merupakan terobosan baru dalam pendidikan nasional. Ditambah lagi dengan dimasukkannya Pendidikan Anak Usia Dini ke dalam jenjang pendidikan formal, maka bakal meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM)," ujar Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah, di Jakarta.

Dia menambahkan, pembaharuan tersebut bakal semakin memperkuat pemerintah dalam merealisasikan visi Indonesia Emas 2045. Inovasi tersebut, lanjut dia, nantinya akan berdampak terhadap perekonomian Indonesia.

"RUU Sisdiknas ini harus dilihat secara keseluruhan ada yang berdampak kepada ekonomi dalam jangka panjang. PAUD sebelumnya tidak masuk dalam wajib belajar tapi kini ditambahkan. Ini adalah pemikiran cerdas," kata Piter.

Dalam draf RUU Sisdiknas, ketentuan wajib belajar 13 tahun diatur pada pasal 7 ayat 2 huruf a dan b. Pasal itu menyebutkan bahwa wajib belajar pada pendidikan dasar bagi warga negara berusia 6 tahun sampai dengan 15 tahun. Adapun wajib belajar pada jenjang pendidikan menengah bagi warga negara berusia 16 tahun sampai 18 tahun.

Selanjutnya, RUU Sisdiknas juga memasukkan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan bagian dari jenjang pendidikan formal. Ketentuan tersebut berdasarkan pasal 21 yang berbunyi bahwa jalur pendidikan formal terdiri atas jenjang pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan dasar, jenjang pendidikan menengah, dan jenjang pendidikan tinggi.

Menurut Piter, kualitas SDM sangat menentukan terhadap tingkat produktivitas. Apabila kualitas SDM rendah, umumnya dicirikan dengan tingkat produktifitasnya yang kecil. Sebaliknya, SDM dengan pendidikan yang baik, maka bisa memperbaiki tingkat produktivitas sehingga berpengaruh terhadap kesejahteraan ekonomi.

"Pendidikan itu menjadi elemen utama. Semua negara maju pasti dicirikan oleh perbaikan SDM," kata Piter.

Ia mengatakan Indonesia saat ini tengah mengalami bonus demografi. Bonus itu baru akan terasa manfaatnya apabila struktur demografi di usia kerja diperkuat dengan SDM yang berkualitas. Apabila kualitas SDM tidak memadai, maka bonus tersebut menjadi bencana demografi. Generasi muda yang mempunyai kualitas baik akan menjadi berkat bagi perekonomian nasional.

Halaman:

Editor: Rohmat Rospari

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pertumbuhan Ekonomi Terhambat, BI Naikkan Suku Bunga

Senin, 26 September 2022 | 15:20 WIB

Daftar Tarif Terbaru Layanan Grab

Senin, 26 September 2022 | 15:10 WIB

Pelabuhan Prigi Menjadi Pengungkit Ekonomi Pesisir

Senin, 26 September 2022 | 14:25 WIB

BI Perkiraan Ekonomi Global Tahun Depan Anjlok

Jumat, 23 September 2022 | 10:36 WIB

Bersama Alit Indonesia Kadin Gali Potensi Ekonomi Desa

Kamis, 22 September 2022 | 10:25 WIB
X