• Rabu, 28 September 2022

Ratu Elizabeth II Meninggal : Dampaknya Terhadap Perekonomian Inggris

- Jumat, 23 September 2022 | 10:07 WIB

Edisi.co.id - Duka mendalam dialami seluruh warga Britania Raya pasca meninggalnya Ratu Elizabeth ke II pada 8 September 2022 lalu, setelah selama 70 tahun berada di puncak tahta -menjadikannya sebagai orang yang menjabat paling terlama-. Nahasnya, kejadian tersebut sedikit banyaknya juga berdampak pada perekonomian Inggris.

Baca Juga: Luhut Buka Perdagangan Wall Street: Momentum Baik Bagi Perekonomian Indonesia

Dalam rangka menghormati jasa-jasa beliau, beberapa kegiatan perekonomian dan sosial budaya terpaksa ditunda. Seperti dalam ranah olahraga, liga Inggris -salah satu sumber pendapatan Inggris- terpaksa harus ditunda selama kurang lebih dua minggu.

Padahal dari segi ekonomi, liga Inggris memberikan pemasukan cukup fantastis terhadap keuangan Inggris. Dari segi penyiaran saja, liga Inggris musim lalu memberikan pemasukan sebesar 3,5 milliar euro. Belum lagi apabila kita berbicara dari segi penjualan tiket stadion, merchandise, perhotelan, transportasi, bahkan pegiat-pegiat UMKM yang berjualan disekitaran stadion.

Selain itu, mata uang Inggris dalam kurun dekade terakhir yang menggunakan wajah Ratu juga harus dirubah menjadi wajah Pangeran Charles. Menurut data bank sentral ada lebih dari 4,7 juta uang kertas yang beredar di Inggris dengan gambar Ratu Elizabeth II, dengan total nilai £82 miliar, atau setara USD 95 miliar (Rp 1.400 triliun). Royal Mint juga melaporkan, ada sekitar 29 miliar uang koin yang beredar dengan gambar Ratu Elizabeth II. 

Menurut Bank of England atau BoE, kebijakan penggantian wajah pada mata uang akan dilakukan secara bertahap dan beredar berdampingan sebagai alat pembayaran yang sah dengan uang kertas dan koin lama untuk jangka waktu tertentu.

Hal tersebut mengingat kondisi perekonomian Inggris belakangan ini yang mencapai angka inflasi sebesar 10,5% -imbas perang Rusia dan Ukraina-. Apabila rencana penggantian wajah pada mata uang tidak dikelola dengan sistematik, peredaran uang berlebihan akan menjadi bumerang terhadap kenaikan inflasi di Inggris

Editor: Rohmat Rospari

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pertumbuhan Ekonomi Terhambat, BI Naikkan Suku Bunga

Senin, 26 September 2022 | 15:20 WIB

Daftar Tarif Terbaru Layanan Grab

Senin, 26 September 2022 | 15:10 WIB

Pelabuhan Prigi Menjadi Pengungkit Ekonomi Pesisir

Senin, 26 September 2022 | 14:25 WIB

BI Perkiraan Ekonomi Global Tahun Depan Anjlok

Jumat, 23 September 2022 | 10:36 WIB

Bersama Alit Indonesia Kadin Gali Potensi Ekonomi Desa

Kamis, 22 September 2022 | 10:25 WIB
X