• Minggu, 23 Januari 2022

Buka Dauroh Ekonomi, Ketum PERSIS: Harapkan Jamiyyah PERSIS Mampu Tingkatkan Sektor Ekonomi Syariah

- Sabtu, 15 Januari 2022 | 11:21 WIB
Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam KH. Aceng Zakaria - Foto: Henry Lukmanul Hakim
Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam KH. Aceng Zakaria - Foto: Henry Lukmanul Hakim

Edisi.co.id, Bandung - Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS) KH. Aceng Zakaria, memberikan tausiah sekaligus membuka acara Daurah Ekonomi, yang diselenggarakan PP PERSIS dan Himpunan Pengusaha Persatuan Islam (HIPPI), pada Jumat (14/1/2022).

Kegiatan Daurah Ekonomi yang digelar di Hotel Horison, Bandung tersebut mengangkat tema "Sinergitsas Pemerintah, Ormas Islam dan Pengusaha dalam Mewujudkan Indonesia Pusat Syariah dan Produsen Halal Dunia pada 2024."

Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran tasykil PP PERSIS, tasykil Himpunan Pengusaha Persatuan Islam (HIPPI), beserta seluruh peserta kegiatan Daurah Ekonomi.

Baca Juga: Dapat Dukungan dari Erick Thohir, Arsjad Rasjiddan dan Ahmad Najib, PERSIS: Akan Gali Potensi Ekonomi Jamiyyah

Dalam sambutannya, Ketum PP PERSIS KH. Aceng Zakaria mengatakan bahwa umat Islam dituntut untuk dapat membedakan ekonomi syariah dan nonsyariah. Dan kegiatan Dauroh Ekonomi tersebut diharapkan mampu meningkatkan sektor ekonomi syariah. Bukan hanya peningkatan kualitas usahanya, tetapi juga kesadaran setelah meraih harta tersebut.

"Di dalam hadits disebutkan, tegaknya negara itu dengan empat pilar, yaitu ilmu para ulama, adilnya para pejabat pemerintahan, kedermawanan para aghniya, terakhir dengan kejujuran para pengusaha. Dengan adanya Dauroh Ekonomi ini, tentu saja adalah ekonomi syariah, umat Islam tentu dituntut harus lebih tahu bagaimana ekonomi syariah dibanding dengan ekonomi yang lainnya," terangnya.

Selanjutnya, Ustaz Aceng juga menjelaskan mengenai perbedaan sistem ekonomi syariah dan nonsyariah. Dalam ekonomi syariah, kata dia, tidak mengenal riba. Ini berbanding terbalik dengan sistem perekonomian nonsyariah yang memakai riba untuk mengambil keuntungan.

Baca Juga: Jadi Pembicara di Dauroh Ekonomi, Angota Komisi XI DPR RI Ahmad Najib Dorong PERSIS Ambil Peran Industri Halal

"Kalau menurut Yahudi jual beli dan riba itu sama, sama-sama untuk mendapatkan keuntungan, tetapi tidak dibenarkan oleh Al-Qur'an. Dalam sistem pinjam meminjam, Yahudi itu menghitung: Kalau membayar hutang tepat waktu tidak ada tambahan lainnya. Kalau tambah waktu satu tahun, dilipatgandakan (pembayarannya). Itulah riba. Dalam Islam ditegaskan jika seseorang yang meminjam berada dalam keadaan yang susah, maka beri mereka waktu yang mudah. Namun, jika kamu bersedekah tentu lebih baik bagi mereka," paparnya.

Halaman:

Editor: Henry Lukmanul Hakim

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Diduga Bandar Narkoba Suap Kapolrestabes Medan

Sabtu, 22 Januari 2022 | 12:05 WIB

Beberapa Khasiat Gurita untuk Kesehatan

Jumat, 21 Januari 2022 | 21:59 WIB

Kota Depok Akan Mengembangkan Lebah Trigona

Jumat, 21 Januari 2022 | 21:07 WIB

Bank Indonesia Diretas Ransomware Conti

Jumat, 21 Januari 2022 | 17:34 WIB

Seorang Pria Hilang Saat Melewati Sungai

Jumat, 21 Januari 2022 | 10:40 WIB
X