• Kamis, 27 Januari 2022

Persoalan Jalan Kemal Attaturk

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 12:10 WIB
Prof Yusril Ihza Mahendra/Twitter
Prof Yusril Ihza Mahendra/Twitter

Karena Pemerintah kita yang lebih dulu meminta Pemerintah Turki mengganti nama sebuah jalan yang “berbau” Belanda dengan nama Jalan Sukarno, maka wajar saja jika secara resiprokal, Turki meminta hal yang sama. Orang Turki nampaknya tidak mempersoalkan pergantian nama jalan dengan nama Jalan Sukarno. 

Tetapi di negeri kita, nama Jalan Attaturk yang diminta Pemerintah Turki itu membuat pusing banyak orang. Bahkan kini berkembang banyak rumors Pemerintah akan memberi nama banyak jalan dengan nama tokoh-tokoh kiri dan Komunis: Jalan Stalin, Kruschev, Jalan Mao Zedong, Jalan Ho Chi Minh dan entah jalan siapa lagi tokoh-tokoh Komunis yang pernah ada di dunia ini.

Sementara usul mengganti nama Jalan Kebon Sirih dengan Jalan Ali Sadikin yang sudah diusulkan DPRD DKI ke Gubernur, belum juga dilaksanakan. Usul tokoh-tokoh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) agar Jalan Kramat Raya diganti namanya dengan Jalan Mohammad Natsir, sampai sekarang nampaknya belum digugris Pemerintah. 

Di negara kita, urusan nama jalan adalah urusan Pemerintah Daerah. Pemerintah Pusat hanya dapat mengusulkan kepada Pemda untuk memberi nama atau mengubah nama jalan yang sudah ada. Gubernur Anis Baswedan yang mendapat dukungan umat Islam melawan Ahok dan AHY dalam Pilkada DKI mestinya tidak ada keberatan apapun dan tidak berlama-lama mengganti nama Jalan Kebon Sirih dengan Jalan Ali Sadikin. Jalan Kramat Raya dengan Jalan Mohammad Natsir. Jalan Matraman Raya dengan Jalan Kasman Singodimedjo. Jalan Warung Buncit dengan Jalan AH Nasution.

Dari pengalaman permintaan resiprokal Pemerintah Turki, entah apakah itu pemerintahan Presiden Edrogan — yang sepanjang pemahaman saya lebih cenderung ke Islam yang beda dengan Sekukarisme Attaturk— ataukah hanya permintaan Kedubes Turki di Jakarta, saya tidak tahu. Ke depan sebaiknya kita tidak usah lagi minta negara lain memberi nama jalan dengan tokoh-tokoh bangsa kita. Sebab, jika mereka juga minta nama tokoh mereka dijadikan nama jalan di Jakarta, kita bisa pusing sendiri.

Di masa lalu, kita pernah dengan inisiatif sendiri memberi nama jalan dengan tokoh negara lain. Ambil contoh Jalan Patrice Lumumba misalnya yang terletak antara Jalan Gunung Sahari dengan Bandara Kemayoran zaman dulu. Lumumba adalah pemimpin Republik Congo di Afrika. Dia dikudeta dan oleh lawan-lawannya dan dituduh Komunis. 

Di zaman Orba yang anti Komunis, nama Jalan Patrice Lumumba diganti dengan Jalan Angkasa sampai sekarang. Nama Angkasa terkait dengan bandara, walau Bandara Kemayoran sudah sejak 1984 pindah ke Cengkareng. Kita tidak merasa berat menggantinya karena nama Jalan Patrice Lumumba karena kita berikan sendiri, bukan atas permintaan Pemerintah Congo.

Dilema Nama Jalan

Saya kira memberi nama jalan dengan nama tokoh atau pahlawan memang akan selalu berhadapan dengan dilema. Seseorang menjadi pahlawan atau menjadi pengkhianat, disukai atau dibenci, sangat tergantung kepada situasi politik pada suatu zaman. Andai ada nama Jalan DN Aidit pada zaman Orde Lama, hampir dapat dipastikan nama jalan itu akan diganti di zaman Orde Baru. 

Mohammad Natsir adalah “pemberontak PRRI” di zaman Orla dan Orba. Di zaman Orref (Orde Reformasi) beliau diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Persepsi masyarakat selalu berubah seiring dengan perubahan zaman. Begitulah sejarah manusia,***

Halaman:

Editor: Ilham Dharmawan

Tags

Terkini

Berapa Banyak Tidur Yang Sebenarnya Anda Butuhkan?

Rabu, 26 Januari 2022 | 21:20 WIB

Apa Itu Materi Gelap dan Energi Gelap?

Rabu, 26 Januari 2022 | 19:16 WIB

Kepiting Asap Ala Pangkal Pinang

Selasa, 25 Januari 2022 | 12:49 WIB

Merokok Sehabis Makan Apakah Berbahaya?

Selasa, 25 Januari 2022 | 12:47 WIB

Inilah Gejala Dari Omicron

Senin, 24 Januari 2022 | 19:19 WIB

Cara Cepat Untuk Tidur

Sabtu, 22 Januari 2022 | 11:46 WIB

Apa Obat Paling Berbahaya di Dunia?

Jumat, 21 Januari 2022 | 18:19 WIB

Bagaimana Ponsel Anda Mengubah Anda?

Jumat, 21 Januari 2022 | 13:56 WIB

Kenapa Kita Susah Inget Kenangan Saat Bayi

Jumat, 21 Januari 2022 | 13:20 WIB

Prinsip Ekuilibrium

Jumat, 21 Januari 2022 | 10:06 WIB

Satu Hari Berapa Liter Air Yang Harus Kita Minum?

Kamis, 20 Januari 2022 | 19:39 WIB

Kapan Sistem Penanggalan Dimulai?

Kamis, 20 Januari 2022 | 19:25 WIB

Sampai Berapakah Tinggi Badan Manusia?

Kamis, 20 Januari 2022 | 19:12 WIB

Internet Mengubah Dunia

Kamis, 20 Januari 2022 | 15:10 WIB

5 Penyebab Bibir Kering dan Pecah Pecah

Kamis, 20 Januari 2022 | 13:11 WIB
X