• Rabu, 19 Januari 2022

Dari AICIS 2021: Menimbang Ajakan “Rekontekstualisasi” Fikih Islam ala Menag Yaqut

- Senin, 15 November 2021 | 08:08 WIB
Penulis: Muhammad Yamin Direktur LBH PP PERSIS. - Foto: Henry Lukmanul Hakim
Penulis: Muhammad Yamin Direktur LBH PP PERSIS. - Foto: Henry Lukmanul Hakim

Oleh: Muhammad Yamin Direktur LBH PP PERSIS.

Edisi.co.id, Jakarta - Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke 20 telah selesai dilangsungkan di Hotel Sunan, Surakarta, pada 25-29 Oktober 2021 lalu. Tak banyak yang luar biasa, kecuali ide-ide lawas seperti moderasi Islam atau toleransi beragama—yang dari waktu ke waktu selalu menjadi agenda titipan.

Namun, seperti biasa, yang menarik pastinya adalah uraian dari pidato sambutan Menag Yaqut Cholil Qoumas. Dalam sambutannya, Sang Menag tidak sedang dalam rangka mengajak umat untuk merevitalisasi syariat Islam. Apalagi hendak mengajak umat mengeksiskannya kembali di kancah kehidupan.

Sebenarnya tidak aneh, siapa pun paham kalau Menag Yaqut termasuk pihak yang keras menentang gagasan penegakan syariat Islam atau penerapan syariat Islam di negeri ini. Melalui Lembaga yang saat ini dipimpinnya, dia bahkan secara masif melabelisasi “fundamentalis” atau “radikalisme” terhadap siapa pun yang menyuarakan pengarusutamaan gagasan syariat Islam di Indonesia. Salah satunya dengan mengarusderaskan “moderasi Islam” yang di dalamnya terkandung spirit sekularisasi dan deideologisasi Islam.

Baca Juga: AILA Indonesia Keluarkan 8 Catatan Penting untuk Permendikbudristek No 30, Berikut Rinciannya

Dalam sambutannya tersebut, Menag Yaqut mengajak umat Islam melepaskan diri dari apa yang disebutnya sebagai “ortodoksi syariat yang berlatar kehidupan di era klasik” Islam. Ia lalu meminta untuk melakukan “rekontekstualisasi” terhadap fikih Islam dan mengajak membuka ruang bagi pemikiran dan inisiatif yang diperlukan untuk membangun peran konstruktif Islam dalam menyempurnakan tata dunia baru.

Pertanyaan sederhananya adalah, tatanan dunia baru seperti apa yang dia maksudkan? Dan rekontekstualisasi fikih seperti apa yang dia maksudkan? Tentu sebagian dari kita sudah bisa menduga apa yang di harapkan sang Menag.

Pertama, harus disadari bersama bahwa fiqih bukanlah hasil pemikiran manusia. Fiqih adalah turunan kongkrit atas pemahaman terhadap wahyu, yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadist serta syariat, sebagaimana yang telah dengan sempurna dicontohkan dan oleh Nabi Muhammad saw. Kebenarannya bersifat mutlak, karena disandarkan kepada Allah Swt. Zat yang Mahasempurna. Karenanya, fiqih tak bisa diganggu gugat apalagi direvisi. Dengan demikian, setiap upaya untuk merekontekstualisasi fiqih oleh manusia atau penguasa politik, bisa disebut sebagai sebuah kesombongan yang nyata. Upaya merekontekstualisasi fiqih sama dengan menantang kesempurnaan Allah Yang Maha Sempurna, suatu kemungkaran nyata yang harus ditolak dengan tegas oleh umat. Sebab membiarkan rekontekstualisasi fiqih akan berarti semakin menjauhkan umat dari ajaran dan syariat islam.

Baca Juga: Bahaya! Permendikbudristek Dikti Nomor 30 Tahun 2021: Pintu Masuk Seks Bebas Dan LGBT

Halaman:

Editor: Henry Lukmanul Hakim

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Berikut Bahan Yang Dapat Menyembuhkan Kaki Pecah-Pecah

Selasa, 18 Januari 2022 | 13:49 WIB

Manfaat Telur Asin Bagi Kesehatan Tubuh

Selasa, 18 Januari 2022 | 13:14 WIB

Bagaimana Bentuk Internet Bekerja?

Selasa, 18 Januari 2022 | 10:16 WIB

Wisata Kuliner Gurita dan Lobster di Bandung

Selasa, 18 Januari 2022 | 10:05 WIB

Akankah Pemanasan Global Menjadi Semakin Parah?

Senin, 17 Januari 2022 | 19:44 WIB

6 Kebiasaan yang Sering Dilakukan Orang Cerdas

Senin, 17 Januari 2022 | 17:30 WIB

Segudang Manfaat Buah Naga Untuk Kesehatan

Senin, 17 Januari 2022 | 16:00 WIB

Sejarah Makanan Gudeg

Senin, 17 Januari 2022 | 15:10 WIB

Nasi Penggal Menu Sarapan Andalan Khas Kebumen

Senin, 17 Januari 2022 | 15:00 WIB

Lima Cara Mengatasi Layar Laptop Yang Berkedip

Senin, 17 Januari 2022 | 14:37 WIB

Cara Menigkatkan Booster Sistem Imun Menurut Ahli

Sabtu, 15 Januari 2022 | 10:35 WIB

Apakah Game Membuatmu Pintar?

Sabtu, 15 Januari 2022 | 10:15 WIB
X