• Senin, 24 Januari 2022

Arti Sidik Jari dalam Islam

- Selasa, 23 November 2021 | 13:14 WIB

Seiring berkembangnya zaman selain tes psikologi, dikenal pula metode lain untuk mengetes potensi anak. Adalah sebuah metode pengukuran dengan pemindai sidik jari anak untuk mengetahui gaya bekerja otak yang paling dominan dalam kaitannya dengan potensi bakat, motivasi karakter dan gaya belajar anak.

Proses analisis sidik jari ini dianggap dapat memberikan arahan bagi orang tua dalam menentukan pola pengasuhan yang tepat serta mendeteksi sampai sejauh mana daya tahan seorang anak terhadap stress.

Dikatakan pula bahwa hasil dari analisis sidik jari ini bersifat objektif tanpa dipengaruhi unsur kondisi fisik seperti sehat atau sakit dan unsur psikologis seperti sedih senang atau tertekan.

Dengan metode ini diharapkan orangtua juga bisa menemukan potensi kekurangan atau kelemahan pada anak. Sehingga dapat ditentukan solusi yang baik supaya anak tetap bisa berprestasi dan produktif termasuk mengenali dan menerapkan gaya belajar yang tepat bagi anak sesuai dengan bakatnya.

Ilmu yang dipakai untuk menganalisis potensi berdasarkan sidik jari ini disebut dermatoglyphics. Inilah ilmu yang mempelajari pola guratan kulit atau sidik jari serta hubungannya dengan genetika tubuh manusia.

Baca Juga: Viral....Erick Thohir Tegur Penjaga Toilet SPBU, Harusnya Toilet SPBU Gratis

Dalam beberapa penelitian para ahli dibidang dermatoglyphics dan kedokteran anatomi tubuh menemukan fakta bahwa pola sidik jari bersifat genetis. Ibarat sebuah kode khusus dalam diri manusia yang tidak bisa dihapus atau diubah kode.

Ini pun sudah muncul ketika janin berusia 13 hingga 24 minggu. Dalam ilmu ini dikatakan bahwa setiap jari berhubungan dengan bagian-bagian otak. Misalnya ibu jari berhubungan dengan otak bagian depan yang juga berasosiasi dengan penalaran perencanaan dan bagian dari cara berucap.

Namun dasar-dasar tersebut mendapat penolakan dari bidang ilmu neurologi atau ilmu yang mengkaji saraf manusia. Alasannya semua bagian yang ada di otak terhubung dengan semua bagian jari ketimbang mengendalikan tiap jari dengan satu bagian otak masing-masing.

Seleksi alam akan memilih mengendalikannya cukup dengan 1/2 bagian. Memakai semua bagian tidak efisien secara energi karena berarti energi diberikan pada semua otak yang terhubung pada setiap jari.

Halaman:

Editor: Rohmat Rospari

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Inilah Gejala Dari Omicron

Senin, 24 Januari 2022 | 19:19 WIB

Cara Cepat Untuk Tidur

Sabtu, 22 Januari 2022 | 11:46 WIB

Apa Obat Paling Berbahaya di Dunia?

Jumat, 21 Januari 2022 | 18:19 WIB

Bagaimana Ponsel Anda Mengubah Anda?

Jumat, 21 Januari 2022 | 13:56 WIB

Kenapa Kita Susah Inget Kenangan Saat Bayi

Jumat, 21 Januari 2022 | 13:20 WIB

Prinsip Ekuilibrium

Jumat, 21 Januari 2022 | 10:06 WIB

Satu Hari Berapa Liter Air Yang Harus Kita Minum?

Kamis, 20 Januari 2022 | 19:39 WIB

Kapan Sistem Penanggalan Dimulai?

Kamis, 20 Januari 2022 | 19:25 WIB

Sampai Berapakah Tinggi Badan Manusia?

Kamis, 20 Januari 2022 | 19:12 WIB

Internet Mengubah Dunia

Kamis, 20 Januari 2022 | 15:10 WIB

5 Penyebab Bibir Kering dan Pecah Pecah

Kamis, 20 Januari 2022 | 13:11 WIB

Apakah Makanan Pedas Baik Untuk Kesehatan?

Rabu, 19 Januari 2022 | 16:30 WIB

Telur Puyuh, Si imut yang Kaya Akan Nutrisi

Rabu, 19 Januari 2022 | 14:57 WIB

SuperHero Asal Indonesia Yang Wajib Kamu Ketahui

Rabu, 19 Januari 2022 | 14:39 WIB
X