• Rabu, 28 September 2022

DARURAT BERPIKIR DAN BERKOMUNIKASI LOGIS PADA PROSES PSIKOLOGIS DAN KESEHATAN MENTAL REMAJA

- Sabtu, 23 Juli 2022 | 13:35 WIB
Geofakta Razali, Pakar Komunikasi Media dan Postmodernisme Institut STIAMI
Geofakta Razali, Pakar Komunikasi Media dan Postmodernisme Institut STIAMI

Geofakta Razali

Pemerhati Postmodernisme dan Psikologi Komunikasi

Edisi.co.id - Apabila kita melihat ganasnya komentar remaja Indonesia di sosial media dibandingkan negara lain, akan memperlihatkan sisi kelam sebuah fenomena komunikasi digital yang perlu diperhatikan dalam mempertimbangkan perilaku remaja. Era postmodernisme memungkinkan remaja untuk membawa sebuah imajinasi mejadi prestasi atau bahkan sekaligus menjadi kutukan bagi pikiran remaja. Begitu kita melihat berbagai komentar yang ada pada setiap postingan, tidak jarang kita menemukan bentuk komunikasi yang up to date , konsumeris dan mengarah kepada sentimen judgemental, bully, hate speech, dan paling tidak mengomentari hal lucu tanpa makna dan tanggung jawab yang mencerminkan terjebaknya mereka pada realitas yang dibangun oleh dunia maya. Sebagian terbiasa mengarang cerita, dan menampilkan diri yang jauh berbeda dari kenyataan. Banyak hal negatif yang mengancam kesejahteraan psikologis remaja yang menjadi tantangan untuk kita semua, apabila melihat bentuk kejahatan dunia maya seperti penipuan bisnis, sampai kekerasan seksual.

Berbagai konten yang hadir secara masif, dan jauhnya relasi yang dalam dengan orang tua membuat remaja sulit mengontrol dan memahami sebuah rujukan dalam membangun pengetahuan dan menentukan sikap yang mereka perlukan untuk membangun dirinya sendiri, atau bahkan masa depannya. Maka, dibutuhkan kemampuan logika dalam setiap penalaran. Dalam bukunya "Brain Building" Dr. Karl Albrecht menyatakan bahwa berpikir logis bukanlah proses magis atau masalah warisan genetik, tetapi proses mental yang dipelajari. Ini adalah proses di mana seseorang menggunakan penalaran secara konsisten untuk sampai pada kesimpulan. Masalah atau situasi yang melibatkan pemikiran logis membutuhkan struktur, hubungan antar fakta, dan rantai penalaran yang "masuk akal". Proses ini melibatkan pengambilan ide-ide penting, fakta-fakta, dan kesimpulan-kesimpulan yang terlibat dalam suatu masalah dan mengaturnya dalam suatu rangkaian seperti perkembangan yang memiliki makna tersendiri. Berpikir logis berarti berpikir dalam langkah-langkah.

Baca Juga: PT Permodalan Nasional Madani Mengajak Nasabah Ultramikro Memasarkan Produk Melalui Media Sosial

Berpikir logis juga sama dengan mempelajari kognitif proses mental, bagi diri sendiri, atau orang lain. Pembentukan logika tentu dapat dibantu melalui dunia pendidikan. Tidak hanya sekedar memahami dasar logika dalam bentuk negasi pada mata pelajaran matematika atau komputer, namun lebih mendalam yang mencakup dialektika, argumentasi. Beberapa lebih mendalam dapat ditemukan pada pelajaran filsafat. Selain makanan, air, dan tempat tinggal, satu hal yang paling dibutuhkan seseorang dalam hidup adalah pendidikan. Dari keempat kebutuhan tersebut, pendidikan adalah satu-satunya yang dapat membantu memastikan kemampuan konsisten seseorang untuk memenuhi tiga kebutuhan lainnya. Sayangnya, pentingnya keterampilan berpikir logis diremehkan dalam pendidikan di Indonesia. Entah karena kurangnya tenaga pengajar yang kompeten, distraksi sosial media dan teknologi, atau memang keterbatasan dan kurangnya minat remaja di Indonesia.

Baca Juga: Wajah Calon Penghuni Surga

Rocky Gerung pernah memberikan statement pada sebuah acara dialog tentang pelajaran logika di Prancis yang dapat ditemukan dari saat siswa melalui proses sekolah menengah. Riset oleh O’Brient dengan judul Logical Thinking on Teenagers mangatakan bahwa pelatihan khusus dalam proses berpikir logis dapat membuat orang "lebih pintar". Pemikiran logis memungkinkan seorang anak untuk mengkomunikasikan sesuatu dengan dasar berpikir dan bertanggung jawab, seperti menolak jawaban yang cepat dan mudah. Secara psikologis, hal ini memberdayakan remaja untuk menggali lebih dalam proses berpikirnya dan memahami lebih baik metode yang digunakan untuk sampai pada solusi. Maka dari itu, patut rasanya pendidikan di Indonesia mempertimbangkan keterlibatan logika dalam proses pendidikan yang akan mempengaruhi cara komunikasi dan kesejahteraan psikologis remaja.

 

Halaman:

Editor: Ilham Dharmawan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Diduga Cabuli Anak SMK, Oknum Guru Dipolisikan

Selasa, 27 September 2022 | 14:35 WIB

Manfaat Daun Sirih Untuk Kesehatan

Jumat, 23 September 2022 | 10:23 WIB

Oknum Pengacara di Semarang Ditangkap KPK

Jumat, 23 September 2022 | 10:20 WIB

Ramalan Zodiak 23 September 2022

Jumat, 23 September 2022 | 10:10 WIB

Manfaat Teh Gingseng Untuk Kesehatan Tubuh

Kamis, 22 September 2022 | 11:09 WIB

12 Ramalan Zodiak Hari Ini

Kamis, 22 September 2022 | 09:54 WIB

Tol Serpong - Balaraja Seksi 1A Resmi Beroperasi

Rabu, 21 September 2022 | 10:58 WIB

Manfaat UU Perlindungan Data Pribadi

Rabu, 21 September 2022 | 10:55 WIB

Beberapa Manfaat Jahe Bagi Tubuh

Rabu, 21 September 2022 | 10:30 WIB

Beberapa Manfaat Kerokan Bagi Kesehatan

Rabu, 21 September 2022 | 10:27 WIB

4 Zodiak yang Jarang Pindah Kerja

Rabu, 21 September 2022 | 10:24 WIB

Muktamar Amul Huzni untuk Para Syuhada Pandemi

Selasa, 20 September 2022 | 18:52 WIB
X