• Selasa, 7 Desember 2021

Generasi Emas : Kuat Iman, Tajam Ilmu

- Senin, 20 September 2021 | 17:25 WIB
(Photo : indonesiaemas.com)
(Photo : indonesiaemas.com)

Oleh: Khairunnas

Secara historis, Indonesia mengalami kebangkitan pertama ketika kemerdekaan digaungkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Ketika itu, para pendiri bangsa berhasil mengusir penjajah dan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya. Kebangkitan kedua dicanangkan setelah 100 tahun Indonesia merdeka, yaitu pada tahun 2045, dengan lahirnya Generasi Emas Indonesia.

Generasi emas adalah generasi yang memiliki keseimbangan antara kemampuan akademik, keterampilan dan karakter. Generasi emas memiliki integritas yang baik, berkarakter sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, dan memiliki kompetensi yang mumpuni di bidangnya. Generasi emas adalah mereka yang memiliki kemampuan adaptif terhadap perubahan dan dapat memanfaatkan kemajuan teknologi digital sebagai modal untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan negara.

Generasi emas memiliki kecerdasan yang komprehensif, meliputi aspek intelektual dan juga spiritual. Generasi Emas adalah generasi yang kuat iman dan tajam ilmu. Mereka memiliki kecerdasan untuk bekerja secara produktif dan inovatif, tetapi juga mampu berinteraksi secara sosial dengan baik karena memiliki jiwa yang kuat dan hati yang bening buah dari olah spiritual yang berlangsung sepanjang hidupnya.

Baca Juga: Isi Kuliah di LP3I Depok, Imam: Akan Memberikan Beasiswa untuk Masyarakat tidak Mampu Tapi Berprestasi

Melahirkan generasi yang kuat iman dan tajam ilmu adalah tanggung jawab semua komponen bangsa. Pemerintah dan masyarakat, khususnya keluarga dan dunia pendidikan harus mampu mengembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap anak Indonesia agar tumbuh dan berkembang secara maksimal. Setiap manusia yang lahir dibekali dengan 6 potensi, yaitu rasio (pemikiran), akal (al-aqlu), hati (al-qalbu), nafsu, jiwa (ruh), dan raga (jasmani). Dengan keenam potensi ini, manusia dapat menjalankan tugasnya dengan baik mengelola dan mengeksplorasi alam semesta untuk kemajuan pedaraban.

Rasio atau pemikiran tidak sama artinya dengan akal (al-aqlu). Rasio lebih berkaitan dengan segala sesuatu yang hanya dapat ditangkap atau diperoleh melalui pengalaman indera manusia. Sedangkan akal memiliki unsur yang lebih luas, tidak hanya mencakup rasio, tetapi juga meliputi fitrah manusia yang berkaitan dengan keimanan.

Kesadaran rasio berkaitan dengan kemampuan manusia menganalisa fenomena alam semesta secara ilmiah. Rasio sama sekali terlepas dari faktor keimanan. Orang yang semata-mata menggunakan rasio akan melahirkan pemikiran yang sekuler. Oleh sebab itu, rasio tidak akan mampu mencapai kebenaran hakiki.

Dalam Islam banyak perintah agar manusia menggunakan rasionya untuk memikirkan alam semesta seperti bintang, tumbuh-tumbuhan, binatang, planet, lautan, gunung, bumi, dan fenomena alam lainnya. Namun, karena rasio tidak bisa mengantarkan manusia kepada kebenaran yang hakiki, maka masih banyak manusia yang ingkar terhadap keesaan dan kekuasaan Tuhan, meskipun telah berhasil mengungkap rahasia alam semesta.

Halaman:

Editor: Rohmat Rospari

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Akibat Suka Begadang, Begini Jadinya

Senin, 6 Desember 2021 | 12:52 WIB

Ini 5 Manfaat Kulit Kentang, Simak Selengkapnya

Jumat, 3 Desember 2021 | 10:00 WIB

Ini Manfaat Minum Teh Pahit, Simak Yuk

Kamis, 2 Desember 2021 | 11:39 WIB

Ini Amalan Muslimah Saat sedang Haid

Rabu, 1 Desember 2021 | 16:40 WIB

Singkong Thailand, Cemilan Lezat

Rabu, 1 Desember 2021 | 15:01 WIB

Sambel Terasi Mudah

Rabu, 1 Desember 2021 | 14:56 WIB

Cara Merawat Tanaman Hias Gantung

Rabu, 1 Desember 2021 | 11:21 WIB

Ini Manfaat Kulit Pisang untuk Kesehatan

Rabu, 1 Desember 2021 | 10:35 WIB

Menerapkan Pola Hidup Sehat Dimasa Pandemi

Selasa, 30 November 2021 | 13:45 WIB

Mengenal Sate Maranggi, Makanan Khas Purwakarta

Senin, 29 November 2021 | 21:01 WIB
X